Jumat, 25 Februari 2011

Demo PSSI, Ratusan Pencinta Sepakbola Tuntut Nurdin Halid dan Jajarannya Mundur

GARDUnews, METROPOLITAN
Foto: Sumber/Gn
GARDUnews, Jakarta : Ratusan pencinta sepakbola seluruh Indonesia, Rabu  (23/2) siang melakukan demo di sekitar Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, menuntut reformasi dan revolusi besar-besaran di tubuh PSSI, dan menuntut Nurdin Halid beserta jajarannya untuk turun.
Kantor Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) diprediksi akan terus diramaikan dengan kehadiran para pencinta bola yang menentang pencalonan kembali Nurdin Halid sebagai ketua umum PSSI. Ratusan pendemo yang tergabung dari wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Jakarta.
Menurut Prianto, pendemo, mengatakan,"Reformasi dan revolusi di tubuh PSSI mutlak harus dilakukan mengingat saat ini kondisi PSSI sudah tidak lagi dapat diharapkan seluruh masyarakat sepakbola. Dengan masih adanya Nurdin Halid dan jajarannya di PSSI, Prianto menganggap ruh PSSI sebagai organisasi yang sportif telah mati," ujarnya.
"Kami menuntut Nurdin Halid beserta kroni-kroninya untuk turun dari kepengurusan. Itu menjadi syarat mutlak membenahi PSSI, membenahi sepakbola nasional. Nurdin harus diganti dengan orang-orang baru yang peduli sepakbola," papar Prianto.
Menurut Prianto, ratusan pengunjukrasa datang ke Jakarta tanpa dibiayai siapapun dan pihak manapun. Hal ini juga sebagai jawaban atas tudingan beberapa pihak yang mengatakan aksi tersebut diboncengi salah satu calon Ketua Umum PSSI yang dicoret tim verifikasi.
"Kami murni datang ke sini tanpa dibiayai siapa pun, tanpa ditunggangi siapa pun. Karena kami tidak mendukung siapa pun saat ini. Yang kami inginkan reformasi dan revolusi PSSI. Perkara yang nanti naik siapa, asal bukan Nurdin-Nirwan dan kroni-kroninya, kami akan dukung,"

Selasa, 22 Februari 2011

Kebudayaan nasional adalah kebudayaan yang diakui sebagai identitas nasional. Definisi kebudayaan nasional menurut TAP MPR No.II tahun 1998, yakni:
Kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Dengan demikian Pembangunan Nasional merupakan pembangunan yang berbudaya.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Wujud, Arti dan Puncak-Puncak Kebudayaan Lama dan Asli bai Masyarakat Pendukukungnya, Semarang: P&K, 199
kebudayaan nasional dalam pandangan Ki Hajar Dewantara adalah “puncak-puncak dari kebudayaan daerah”. Kutipan pernyataan ini merujuk pada paham kesatuan makin dimantapkan, sehingga ketunggalikaan makin lebih dirasakan daripada kebhinekaan. Wujudnya berupa negara kesatuan, ekonomi nasional, hukum nasional, serta bahasa nasional. Definisi yang diberikan oleh Koentjaraningrat dapat dilihat dari peryataannya: “yang khas dan bermutu dari suku bangsa mana pun asalnya, asal bisa mengidentifikasikan diri dan menimbulkan rasa bangga, itulah kebudayaan nasional”. Pernyataan ini merujuk pada puncak-puncak kebudayaan daerah dan kebudayaan suku bangsa yang bisa menimbulkan rasa bangga bagi orang Indonesia jika ditampilkan untuk mewakili identitas bersama.Nunus Supriadi, “Kebudayaan Daerah dan Kebudayaan Nasional”
Pernyataan yang tertera pada GBHN tersebut merupakan penjabaran dari UUD 1945 Pasal 32. Dewasa ini tokoh-tokoh kebudayaan Indonesia sedang mempersoalkan eksistensi kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional terkait dihapuskannya tiga kalimat penjelasan pada pasal 32 dan munculnya ayat yang baru. Mereka mempersoalkan adanya kemungkinan perpecahan oleh kebudayaan daerah jika batasan mengenai kebudayaan nasional tidak dijelaskan secara gamblang.
Sebelum di amandemen, UUD 1945 menggunakan dua istilah untuk mengidentifikasi kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional. Kebudayaan bangsa, ialah kebudayaan-kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagi puncak-puncak di daerah-daerah di seluruh Indonesia, sedangkan kebudayaan nasional sendiri dipahami sebagai kebudayaan angsa yang sudah berada pada posisi yang memiliki makna bagi seluruh bangsa Indonesia. Dalam kebudayaan nasional terdapat unsur pemersatu dari Banga Indonesia yang sudah sadar dan menglami persebaran secara nasional. Di dalamnya terdapat unsur kebudayaan bangsa dan unsur kebudayaan asing, serta unsur kreasi baru atau hasil invensi nasional. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradsional, Kongres Kebudayaan 1991: Kebudayaan Nasional Kini dan di Masa Depan,